HERMENEUTIKA NEGOSIATIF DAN ANALISIS WACANA KRITIS

Posted: April 17, 2011 in pendidikan

a. Topologi Hermeneutika Barat

Istilah hermeneutika  merupakan turunan dari kata kerja Yunani, Hermeneunin  berhubungan dengan kata benda hermenes dan terkait dengan dewa dalam mitologi Yunani yang bernama hermes. Hermes merupakan utusan para dewa untuk membawa pesan Tuhan yang memakai bahasa “langit” kepada manusia yang menggunkan bahasa “dunia”. Untuk itu interpretasi diperlukan.

Hermeneutika berarti suatu ilmu yang mencoba mengambarkan bagaimana sebuah kata atau suatu kejadian pada waktu dan budaya yang lalu dapat imngerti dan menjadi bermakna secara eksistensial dalam situasi sekarang. Dengan kata lain, hermeneutika merupakan teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap sebuah teks. Objek kajian utamanya adalah pemahaman makna pesan yang terkandung dalam teks dengan variabelnya. Tugas utama hermeneutika adalah mencari dinamika internal yang mengatur stuktur kerja suatu teks untuk memproyeksikan diri keluar dan memungkinkan makna itu muncul.

Melalui hermeneutika, hasil sebuah analisi bisa berbeda dengan maksud penggas namun juga bisa sama. Sebab, ketika suatu wacana diwujudkan kalam bentuk tulisan maka, menurut Paul Ricoeur, yang terjadi sesungguhnya adalah “pelestarian amakna wacana”, bukan “peristiwa wacana itu sendiri”. Dengan demikian, wacana tertulis tersebut memperoleh otonominya secara rangklap tiga:otonomi dari maksud pengarang; otonomi dari konteks sosio-historis awal yang melatarinya; dan otonomi dari kelompok sasaran awalnya. Bersamaan dengan itu, wacan tertulis atau teks menjadi sesuatu yang pasti pada dirinya.

Sifat otonomi wacana tertulis atau teks di atas mempunyai konskuensi logis bagi siapa pun yang bergulat dngan penafsiran teks. Otonomi teks membuat penafsiaran setiap teks terbuka dan menolak upaya menunggalkan tafsir. setelah dituliskan, setiap teks memiliki makna sendiri yang tidak selalu bisa disamakan dengan makna awal maksud pengarang. Oleh karena itu, di satu sisi, teks dapat dikonstektualisasikan dan, di sisi lain, bisa direkonstektualisasi kedalam kondisi baru, menjumpai para pembaca baru yang berada diluar  kelompok sasaran awal. Itu berarti bahwa teks bisa memproduksi makna-makna baru sesuai kelompok  sasaran barunya. Kendati demikian, pesan subyek yang mengatakan atau penggas tetap tersimpan dalam teks sehingga pesan itu bisa dilacak melalui pembacaan yang bersifat negoisasi antara pembaca dan teks.

Persoalan utama hermeneutika terletak pada pencarian makna teks, apakah makna objektif ataukah makna subjektif. Perbedaan penekanan pencarian makna pada ketiga unsur hermeneutika :penggas, teks, dan pembaca, menjadi titik beda dari masisng-masing hermeneutika. Titik beda tersebut dapat dikelompokan menjaditiga kategori hermeneutika.

Pertama, hermeneutika teoritis yang menitik beratkan pada problem “pemahaman”, yakni bagaimana memahami dengan benar. Sedangkan makna yang menjadi tujuan pencarian  dalam hermeneutika ini adalah makana yang dikehendaki oleh penggas teks. Oleh karena itu tujuannya memahami secara objektif maksud penggas, maka hermeneutika model ini juga dianggap sebagai hermeneutika romantis yang bertujuan untuk “merekonstruksi makna”.

Dalam rangka merekonstruksi makana, Scheleirmacher, sebagai pencetus hermeneutika teoritis, menawarkan dua pendekatan: pertama, pendekatan linguistik yang mengarah pada analisis teks secara langsung, dan kedua, pendekatan psikologis yang mengarah pada unsur psikologis-subjektif sang penggagas sendiri. Dua unsur pendekatanini dalam hermeneutika teoritis dipandang sebagai dua hal yang tidak boleh dipisahka. Memisah salah satunya akan menyebabkan sebuah pemahaman terhadap pemikiran seseorang menadi tidak sobjektif. Serbab, teks berfungsi sebagai media penyampaian gagasan penggagas kepada audiens. Agar pembaca memahami makna yang dikehendakai penggagas teks, hermeneutika teoritis mengasumsikan seorang pembaca harus menyamakan posisi dan pengalamanya dengan penggagas teks. Dia seolah-olah  bayangahn penggagas teks, Agar mampu menyamakan posisisnya dengan penggagas dia harus mengosongkan dirinya dari sejarah hidup yang membentuk dirnya, dan kemudian memasuki sejarah hidup penggagas dengan cara berempati kepada penggagas.

Wilhem Dilty yang merupakan pelanjut gagasan hermeneutika teoritis Schleimacher mengawali kajiannya dengan memilah-milah ilmu menjadi dua disiplin:(1) Ilmu alam (2) Ilmu Sosial Humanoria. Disiplin ilmu yang pertama menjadikan alam sebagai objek penelitiannya, sementara disiplin ilmu yang kedua menjadikan manusia menjadi objek kajiannya. Oleh karena itu objek dari ilmu alam berada di luar subjek maka ia diposisikan sebagai sesuatu yang datang kepada subjek; sebaliknya, oleh karena itu obkek ilmu sosial-humaniora berda di dalam subjek itu sendiri maka kedua disiplin ilmu ini bukan objeknya semata, melainkan juga orientasi dari subjek pengetahuan, yakni “sikapnya” terhaap objek.

Dengan demikian, perbedaan kedua displin ilmu tersebut besifat epistimologis bukan ontologis. Secar epistimologis, dilthey menganggap disiplin ilmu alam menggunakan penjelsaan , yakni menjelaskan hkum alam menurut penyebabnya dengan menggunakan teori. Hal itu karena pengalaman terpisah dari teori. Sedangkan disiplin ilmu sosial-humaniora mengunakan pemahaman , dengan tujuan untuk menemukan makna subjek karena dalam pemahanan, pengalaman dan pemahaman teoritis bercampur.

Berbeda  dari hermeneutika teoritis Schleiermacher, Dilthy menganggapmakana objektif yang perlu dipahami dari ilmu humaniora adalah teks dalam konteks kesejarahannya. Hermeneutika bertuja untuk memahami teks sebagai ekspresi sajarah, bukan ekspresi mental penggagas,. Oleh kerena itu, yang perlu dikonstruksi oleh teks adalah makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnay teks. Berbeda dari Scheiermacher, Dilthy berpendapat bahwa untuk merekonstruksi makna teks kiat tidak harus menyelam kedalam pengalaman penggagas. Sebab, pengalama itu diperantarai oleh karya-karya para tokoh sejarah yang menghayati realitas  pada masanya. Hal itu bisa ditemukan dengan pemahaman terhadap makna budaya yang diproduksinya. Disinilah sikap empati  pembaca terhadap teks menemukan tempatnya.

Emillo Betti termasuk tokoh hermeneutika yang menganut paham hemeneutika teoritis. Dia mencoba memadukan antara teori Schleiermacher  dan Wilhem Dilthey. Sebagaimana pendahulunya, hermeneutika menurut Betti bertujuan untuk menemukan makna obkektif. Betti menawarkan empat momen gerakan alam untuk menemukan makana objektif: pertama, penafsiran melakukan investigasi fenomena linguistik teks; kedua, penafsir harus mengoongkan dirinya dari segala bentuk kepentingan; ketiga, penafsir harus menempatkan dirinya dalam posisi seorang penggagas melalui kera imajinasi dan wawasan; dan keempat, melakukan rekonstruksi untuk memasukkan situasi dan kondisi gua memperoleh hasil yang di ingin dicapai ungkapan teks.

Selanjutnya, ktegori hermeneutik yang kedua adalah hermeneutika filosofis. Problem utama hermeneutika filosofis bukanlah bagaimana memahami teks dengan benar dan objektif sebagaimana hermeneutika teoritis, melainkan bagaimana “tindakan memahami” itu sendiri. Menurut Gadamer, sang penggagas hermeneutika berhubungan dengan watak interpretasi, bukan teori interpretasi. Oleh karena itu, dengan mengambil konsep fenomenologi Heigger tentang Dasein (ke-Ada-annya di dunia), Gadamer menganggap hermeneutikanya sebagai risalah ontologi, bukan metodologi.

Gadamer menolak hermeneutika teoritis yang menganggap hermeneutika bertujuan menemukan makna objektif. Dia menilai tidak mungkin teks sebagaimana digagas oleh para penggagas hermeneutika teoritis karena dua alasan: pertama, orang tidak bisa berharap menempatkan dirinya dalam posisi pengarang asli teks untuk mengetahui makna aslinya, dan kedua, memahami bukanlah komuni misteri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s