Archive for the ‘Pengetahuan’ Category

Dunia  zakat  di  Indonesia memang  telah  mengalami perkembangan  yang  sangat signifkan, baik dari segi pengumpulan maupun penyaluran.  Seiring dengan perkembangan  tersebut  fakta  empiris menyebutkan bahwa ada banyak hal yang harus  dibenahi. UU  Nomor  38  Tahun 1999  yang  selama  ini  menjadi  payung pelaksanaan  pengelolaan  zakat  sudah tidak  lagi  mampu  menjawab  persoalan yang ada di lapangan. Sebut saja misalnya peran  ganda  yang  dimiliki  pemerintah, selain  menjadi  regulator  juga  merangkap operator, dan pengawas. Padahal tiga fungsi ini tidak boleh melekat dalam satu institusi.  Negara  tidak  boleh  mencampuri seluruh aspek dari sebuah aktivitas. Perannya hanya  cukup  sebagai  pembuat kebijakan yang berfungsi  sebagai  system yang menjadi aturan main dari aktivitas tersebut. Selain itu, masih banyak persoalan lain yang segara harus dibereskan. (lebih…)

Iklan

Makkah al-Mukarramah adalah tanah yang sangat disucikan oleh umat Islam. Sebab, Allah SWT telah menegaskan hal itu dalam Alquran. “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedangkan manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka, mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya pada yang batil dan ingkar pada nikmat Allah?” (QS Al-Ankabut [29] 67).

Selain Makkah, tanah yang juga disebut suci oleh Allah adalah Palestina dan di sekitarnya. Ini terlihat  dari firmannya “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (Al-Maidah [5] 21). Lihat juga dalam surah Al-Isra [17] ayat 1. (lebih…)

Adapun pengaruh yang dominan dalam pemikiran Hasbi As-Shiddieqy tentang Fiqih Indonesia ada beberapa hal diantaranya: Pertama, secara tinjauan sejarah bahwa pemikiran hokum islam yang mencoba memadukan serta mempertimbangkan suatu unsur struktur kebudayaan {adat} kedalam rumusan hukum islam ternyata telah dilakukan oleh banyak kalangan para pemikir hukum islam fase awal yakni fase islam baru masuk Indonesia, para pemikir hukum masa lalu telah mendemonstrasikan secara baik tata cara menyantuni aspek lokalitas didalam ijtihad hukum yang mereka lakukan. Meskipun tidak sampai memunculkan seorang mujtahid mustaqil. Kedua, polarisasi khilafiyah antar golongan yang telah menghilangkan prioritas kerja fikir umat islam terkait bagaimana merumuskan garis-garis pemikiran hokum islam dalam kerangka developmentalisme. Keadaan kontra produktif seperti ini telah mengantarkan pemikiran hokum islam jatuh pada titik terendah dalam kualitas pengembangan  dan pemberdayaannya yang menjadikan perkembangan hokum islam di Indonesia menjadi letih-lesu dan kehilangan orientasi. (lebih…)